by

Opini Memaknai Hari Raya di Tengah Pandemi Covid-19

-Berita, Nasional-123 views

Lampungway.com – Ini adalah opini dari Founder Akubisa.org, Ikhsanudin terkait memaknai hari fitri di tengah pandemi covid-19.

Ikhsan yang juga owner penerbitan buku “Aura Publihser” ini menulis di beranda Facebooknya dengan judul: Sambut New Normal dengan New Personal.

Berikut opini Ikhsanudin tentang memaknai hari raya di tengah pandemi, “Sambut New Normal dengan New Personal”.

Saat ini dunia masih dilanda kekhawatiran, semua masih berjuang menyatukan harapan, melawan kebiasaan dan saling menopang.

Rasa-rasanya masih seperti mimpi, dimana beberapa waktu silam kita masih bisa ketawa kesana kemari. Kini, rasa-rasanya, membuka bibir untuk tersenyum sajapun berat sekali.

Bagaimana kita bisa tersenyum diantara duka dan luka saudara kita, yang tengah berjuang para medis dan pasien covid 19 juga kita semua yang terdampak karenanya.

Rasanya satu situasi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya, apalagi kita harapkan.

Ini bukan mimpi, inilah kenyataan hari ini, hari dimana semua dipaksa untuk berubah. Yang awalnya bisa berjumpa, berjabat tangan dan berpelukan kini semua terwakilkan dengan melakukannya via virtual.

Kita memang berada dalam teknologi yang maju, namun untuk beberapa alasan kita adalah mahkluk sosial yang berkebutuhan untuk tetap bisa berkumpul, merangkul secara nyata seperti biasanya.

Terhitung hampir 5 bulan Indonesia melawan pandemic Covid-19, berbagai upaya diterapkan. Mulai dari pembatasan aktivitas hingga menerapkan pola hidup yang benar-benar baru.

Bahkan untuk urusan ibadah sekalipun, ruang-ruang ibadah menjadi sepi. Terlebih dikala bulan Ramadhan seperti sekarang ini.

Kenangan akan ramadhan tahun lalu yang dipenuhi dengan suka cita, tahun ini kita bersama-sama merayakan dengan cara yang berbeda.

Tidak ada namanya buka puasa bersama, iktikaf, sholat tawarih berjamaah di masjid maupun di surau-surau, hingga mudik sekalipun kini juga dilarang.

Semua tentu terjadi bukan tanpa alasan. Pandemic Covid-19 yang sampai sekarang belum kunjung mereda, memaksa kita semua untuk menyepakati peraturan baru.

Tentu bukanlah perkara mudah, mengingat merubah kebiasaan manusia dibutuhkan proses yang panjang dan tidak sebentar.

Saat ini orang menyebutnya New Normal. Sederhananya bisa diartikan sebagai era hidup yang baru.

Melalui new normal ini, secara langsung membuat kita merefleksikan banyak hal. Salah satunya merefleksikan proses ibadah kita selama ini.

Biasanya penuh dengan perayaan, meriah kini kita dipaksa untuk “sendiri” dan di rumah. Akan memupuk keikhlasan dan kekhusu’an kita bermunajat kepadaNya.

Ditambah keadaan ekonomi yang bisa dikatakan sedang tidak baik-baik saja semakin membuat kita untuk membuang jauh-jauh khayalan terkait dengan perayaan-perayaan.

Kini menjadi waktu yang tepat untuk bersama membaca diri kembali. Bertanya kembali pada diri, mengenai apa yang sudah dilakukan dan apa yang sudah membawa perubahan.

Idul fitri kali ini tidak ada mudik untuk silaturahim, tidak ada baju baru, sandal juga sepatu baru seperti lebaran sebelumnya menjadi salah satu penanda datangnya hari raya.

Melihat banyak sesama yang kehilangan pekerjaan, tempat tinggal bahkan untuk makan sekalipun susah, merupakan tamparan keras.

Bahwa masih banyak diluar sana yang benar-benar membutuhkan. Tidak sepantasnya kita mengeluh.

Saat ini menjadi waktu yang tepat untuk proses penyadaran diri, bahwa ibadah, lebaran bukan hanya sekedar perayaan.

Lebih dari itu merupakan proses pemaknaan untuk bisa memaknai kata memaafkan yang diiringi dengan perubahan.

Sepenggal kalimat dari Emha Ainun Najib menjadi layaknya alarm keras saat ini, “Yang dimaksud idul fitri atau mudik atau kembali kembali ke kampung asli mungkin adalah mengelupas secara bertahap kulit-kulit palsu kita. Manusia hari ini susah dicari, dan ia sendiri susah menemukan dirinya karena seluruhnya mereka sembunyikan dalam casing”.

Untuk tidak pulang kali ini, mari kira rayakan dengan menjadi baru yang penuh empati, kepedulian baik pada diri sendiri serta baik kepada sesama.

Meskipun demikian, kita tetap bisa saling berjabat tangan dan saling memaafkan tanpa harus berada di kerumunan.

Karena sejatinya, memaafkan itu perihal keikhlasan. Mari sambut new normal dengan new personal.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed